Sejarah Pengolahan Besi

Sejarah Pengolahan Besi

Sejarah Pengolahan Besi – Ilmu metalurgi merupakan salah satu ilmu tertua yang ada di bumi, ilmu ini menjadi salah satu tanda dimulainya era modern dalam sejarah umat manusia. Hal ini karena pada saat itu manusia sudah mulai mengenal cara mengolah logam disamping menggunakan alat dari batu maupun kayu.

Mungkin kita semua sudah mengetahui atau belajar tentang zaman perunggu dan zaman besi. Diperkirakan logam emas menjadi salah satu jenis logam yang diolah oleh manusia, hal ini didukung dengan adanya penemuan emas yang berumur kira – kira 6.000 tahun sebelum masehi pada berbagai perhiasan dan ornamen – ornamen.

Hal tersebut dapat dikatakan masuk akal karena logam emas sendiri termasuk logam native yang keberadaannya di alam sebagai logam yang tidak berikatan. Karena tidak berikatan maka pengolahannya pada saat itu hanya perlu proses liberasi saja. Setelah itu barulah ditemukan jenis logam lain seperti tembaga (4200 SM), perak (4000 SM), timbal (3500 SM), timah (1750 SM) dan besi (1500 SM).

Namun yang akan dibahas disini adalah sejarah pengolahan besi. Besi sendiri diperkirakan pertama kali digunakan untuk sambungan antara 2 batu pada piramida yang kemungkinan besi tersebut diperoleh dari sisa – sisa meteor yang jatuh ke bumi. Diperkirakan besi sendiri mulai dibuat di Mesir dimana bijih besi dilebur secara sederhana.

Peleburan tersebut dilakukan menggunakan bahan bakar dan udara yang dihembuskan dengan menggunakan kaki. Untuk meleburkan logam besi yang memiliki tingkat kekerasan 6 – 7 skala mohs (bila diukur dengan hardness tester / alat pengukur kekerasan) memerlukan suhu mencapai 1.538°C.

Di Afrika pada tahun 600 SM ditemukan sebuah teknologi yang lebih modern dalam pengolahan besi yang sudah menggunakan tanur. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa bijih besi dan charcoal dimasukkan dalam tanur yang kemudian dihembuskan udara dari pipa lempung untuk proses reduksi. Apabila proses peleburan ini sudah selesai maka tanur akan dihancurkan untuk mengambil besi yang telah diproduksi (kandungan karbon 0,2 – 0,6%) untuk kemudian dipisahkan dari slag.

Di negara mediterania juga ditemukan teknologi lain dalam pengolahan besi dimana bijih besi dilebur dalam sebuah lubang yang dindingnya dilapisi batu – batu. Secara cepat teknologi tersebut kemudian menyebar ke negara – negara di Eropa dengan mengalami banyak modifikasi.

Barulah pada tahun 1600 teknologi pengolahan besi berkembang cukup pesat dimana untuk menghembuskan udara sudah tidak menggunakan tenaga manual lagi, namun sudah digantikan dengan sistem penggerak roda. Kemajuan lain juga ditunjukkan pada teknologi blast yang sudah dilengkapi dengan taphole untuk mengeluarkan metal dan slag.

Lama – kelaman teknologi pengolahan besi ini semakin maju yang ditunjukkan dengan modifikasi blast furnace yang semakin baik dari segi proses maupun peralatan. Bahan bakar yang digunakan juga berubah yang pada tahun 1.800an mayoritas penggunaan bahan bakar menggunakan charcoal / arang yang berasal dari kayu, dan setelah tahun tersebut bahan bakar kokas sudah mulai digunakan. Hal ini juga didukung karena semakin langkanya ketersediaan kayu untuk bahan bakar charcoal atau arang.

Bahkan batubara bituminous dan antrasit juga sempat digunakan dalam sebuah percobaan, namun efisiensinya kurang bagus karena mudah hancur saat proses. Dari segi lining pun turut berubah dimana dahulu menggunakan batu granit atau batu alam lainnya sebagai dinding furnace, maka pada tahun 1.900an sudah mulai digunakan alumina brick.

Dengan banyaknya modifikasi dari blast furnace, tentunya semakin meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses. Di lain pihak,teknologi yang berkembang mengakibatkan bukan hanya blast furnace saja yang dapat mengolah besi, terdapat juga teknologi Direct Reduction (Hyll, Midrex, SL/RN, Circored dll) ; smelting reduction (Corex,Hismelt, DIOS dll).

Evolusi teknologi pengolahan besi telah merubah masyarakat agraria menjadi masyarakat industri dengan segala kemudahannya. Namun di sisi lain, semakin banyaknya industri menyebabkan polusi yang tidak terkendali sehingga terjadi pencemaran. Inilah yang menjadi tantangan engineer untuk mencari solusi bersama agar bumi yang kita tempati saat ini kelestarian dan keasriannya masih dapat dirasakan oleh generasi selanjutnya.


Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan