Apa itu Buah Kawista?

Nama buah “Kawista” mungkin tidak seterkenal buah-buah lainnya seperti apel, jeruk atau mangga. Tapi, buah yang masih berkerabat dekat buah maja ini ternyata punya banyak manfaat dan keunggulan. Menurut para ahli, buah ini banyak tersebar dari India Selatan hingga Asia Tenggara termasuk Indonesia dan biasa ditemukan di dataran rendah hingga ketinggian 450 meter diatas permukaan laut.

Di Indonesia sendiri, buah ini punya banyak nama. Masyarakat Aceh menyebutnya sebagai buah batok, masyarakat Jawa mengenalnya sebagai buah kawis, orang Bali menyebutnya sebagai buah kusta, sementara orang-orang di NTB menamakan buah ini sebagai buah kawi atau kinca. Buah ini juga menjadi bahan pelengkap bagi beberapa masakan nusantara seperti bumbu pelengkap untuk rujak Aceh dan rujak khas suku Mbojo dari Bima.

Tapi, walaupun dikenal di berbagai daerah di Indonesia, buah kawista termasuk buah yang langka. Hal ini karena secara alamiah, pohon kawista baru bisa berbuah setelah berusia 7-10 tahun, sehingga banyak orang lebih memanfaatkan kayu dari pohonnya yang dikenal cukup keras dibandingkan dengan buahnya. Salah satu daerah yang dikenal sebagai penghasil buah kawista adalah Rembang, Jawa Tengah dimana buah ini juga diolah menjadi dodol, sirup hingga minuman bersoda yang dikenal sebagai Cola van Java.

Keunggulan Kawista

Ada dua bagian utama yang bisa dimanfaatkan dari tanaman ini, yaitu pohon (kayu) dan buahnya. Seperti pada paragraf sebelumnya, kayu dari pohon kawista dikenal kuat dan keras sehingga sangat bermanfaat untuk berbagai keperluaan. Tanaman kawista sendiri dikenal sebagai tipikal tanaman yang bandel, dalam artian, bisa tumbuh di tanah yang kering dan tahan terhadap hama dan penyakit dari tanaman lain. Kulit batang pohonnya pun dipercaya dapat menjadi campuran jamu untuk mengatasi haid berlebih, mual-mual hingga gangguan hati.

Jika bicara soal buahnya, selain rasanya yang unik, buahnya ternyata punya segudang manfaat.Manfaat buah kawista mulai dari mengobati batuk, mual, haid berlebih, mengobati diare dan panas dalam, meningkatkan energi hingga dipercaya bisa menyehatkan hati dan jantung.

Budidaya Buah Kawista

Secara tradisional, proses budidaya kawista dimulai dengan menyemai benih selama 2-3 minggu hingga berkecambah kemudian ditanam. Proses paling tradisional ini bisa memakan waktu yang cukup lama hingga pohonnya bisa menghasilkan buah. Untungnya, ada beberapa metode yang tergolong cukup sukses dalam membudidayakan pohon kawista.

Metode pertama adalah okulasi. Caranya cukup sederhana, yaitu dengan menyambungkan pohon kawista yang baru tumbuh seukuran sekitar 10 cm dengan tunas dari pohon lain yang sudah berbuah. Dengan metode ini, selain mendapat keunggulan dari kedua induknya, pohon juga bisa menghasilkan buah dengan sedikit lebih cepat.

Metode kedua adalah sambung akar. Metode ini juga umum diterapkan dalam budidaya durian, hingga pohon durian bawor bisa menghasilkan buah hanya dalam 3-4 tahun saja. Untuk penerapannya teknik sambung akar pada pohon kawista, hanya menggunakan satu jenis akar saja. Dengan metode ini, pohon bisa berbuah maksimal dalam 2 tahun, selain itu, pohon juga lebih tahan dengan angin kencang dan produktivitas yang lebih tinggi.

Bila dijadikan usaha, buah kawista tergolong menguntungkan. Harga per buahnya di tingkat petani sekitar 2-3 ribu sementara ditingkat pedagang ada di kisaran 5-10 ribu Rupiah. Pohonnya sendiri bisa bertahan antara 15-20 tahun dan dengan nutrisi dan perawatan yang baik bisa berbuah sepanjang tahun. Belum lagi peluang untuk mengolah buah ini menjadi produk lain seperti dodol, sirup dan minuman bersoda. Kabarnya, beberapa negara seperti Jepang, Amerika hingga Finlandia bisa menjadi negara tujuan ekspor dari buah ini seperti yang dilakukan oleh Sri Lanka.


Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan